Home
Kata MutiaraIndonesiaAcehBaliBanjarBatakBekasiBetawiBugisCirebonGayoJawaKawiLampungLembakMakassarManadoMedanMinangNgapakOsingPapuaSasakSemarangSundaWalikanBiologiEkonomiEkonomi SyariahFarmasiFiqih IslamGaulGeografiGiziHukumInvestasiKedokteranKepolisianKesehatanKimiaMiliterLatinOtomotifPelayaranPerbankanPeribahasaPertambanganPertanianPKnPolitikPsikologiSansekertaSejarahSosiologiTeknologiTradingUngkapan
KAMUS PINTAR - KATA_MUTIARA
Disempurnakan Dengan AI Beta v2608.1
Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori)
Arti kata Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori) / arti Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori) / definisi Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori) / pengertian Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori) / apa arti Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori) :
Kata Filosofi
Informasi Kata
| Jumlah Huruf | : | 143 |
| Jumlah Kata | : | 20 |
Kata Terkait
Kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, namun percayalah, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.
Kita memiliki anugerah cinta yang sangat berharga seperti tanaman. Anda tidak dapat membiarkannya tumbuh sendiri, melainkan harus tetap disiram dan dipupuk. Anda benar-benar harus merawatnya jika benar-benar ingin tumbuhan tersebut tidak mati. (John Lenno
Kita mencintai karena hanya itulah satu satunya petualangan. (Nikki Giovani)
Kita mencintai seseorang bukan karena dia sempurna, tapi untuk belajar dan saling memahami serta melengkapi ketidaksempurnaan kita.
Kita mencintai seseorang bukan karena dia sempurna, tapi untuk belajar dan saling memahami serta melengkapi ketidaksempurnaan kita.
Kita menjadi bijak bukan karena pengalaman di masa lalu, tetapi karena tanggung jawab akan masa depan. (George Bernard Shaw)
Kita menua, lalu melupa, dan dilupakan (Husnulhoy)
Kita merancang, Allah juga merancang, dan perancangan Allah itulah yang lebih baik. Redhalah dan tabah, semua yang berlaku ada hikmah. (Yum Juri)
Kita selalu bisa memaafkan tanpa harus melupakan, tapi kita tidak akan benar-benar bisa melupakan tanpa memaafkan.
Kita semua membuat kesalahan, namun selama kamu melepaskan masa lalu, kamu akan punya masa depan yang cerah.